Wednesday, 29 July 2015

Cara sederhana ku Untuk Bahagia

Cara Sederhana ku Untuk Bahagia


Waktu bener-bener berputar. Meskipun kita siap atau pun tidak. Kadang kita masih berleha-leha masih cinta dengan masa-masa SMA yang penuh teman, belajar, bermain. Tapi tak terasa kita harus sudah melewati nya, apabila belum siap kita terasa seperti dipaksa dalam waktu yang baru, lingkungan baru, teman baru.

Masih teringat awal pertama Ospek waktu kuliah. Pakaian yang aku pakai, teman-teman baru ku, sibuk waktu ada kuis, temen-temen kesayangan waktu kuliah. Mengunjungi tempat-tempat yang ingin kita kunjungi. Mengatur keuangan waktu jadi anak kos. Tak serasa skripsi pun dijalani. Yudisium, dan ahirnya lulus. Hilang lagi masa-masa itu.

Tentang cinta, masih ingat gimana pertama kali aku ketemu dia. Masih SMA kelas dua. Tak terasa waktu berjalan hingga lulus sekolah. Lulus kuliah aku masih setia sama dia. Tapi apa yang aku dapat. Dia tidak menginginkan aku jadi bagian hidupnya ketika dia dewasa.

Hati ku begitu sakit. Aku menjadi rapuh. Hilang semua harapan ku. Serasa tak ingin punya masa depan. Dunia jadi sulit untuk ku untuk tersenyum. Ini adalah kekecewaan terbesar yang pernah aku alami. Karna udah lebih dari 7 tahun aku selalu menggantungkan harapan-harapan ku bersama nya.

Sekarang beberapa tahun pun berlalu, usia udah mulai 27 tahun, ingin sekali menikah seperti teman-teman lainya. Kini dengan dia yang udah dua tahun bersama ku. Dia yang selalu mau mengisi hari-hari ku. Dia yang menaruh harapan-harapan nya untuk bersamaku.  Kekecewaan ku mulai memudar. Aku bisa merasakan bahagia yang dulu hilang.  Karna dia terlihat mencintaiku, aku pun ingin mencintainya juga.

Aku sekarang benar-benar yakin, hidup ini hanya sebentar saja. Menjemput bahagia itu saat kita menerima dengan ikhlas apa yang diberikan dengan kita, mensyukurinya di hati yang dalam, saat menyambut pagi dengan harapan-harapan, keluarga dan orang-orang terdekat. Itu sudah cukup. Semua telah ada. Belahan hati, keluarga, pekerjaan. Semua sederhana, tapi buat ku itu adalah harta ku untuk selalu bersyukur.

Bahagia itu saat kita menerima, memaafkan, saat kita berusaha menjadi orang yang sederhana. Menerima apa yang ada saat ini dan lebih banyak mencoba dan berusaha dengan harapan-harapan baru itu kunci bahagia ku. Sederhana sekali, aku berdamai dengan diriku sendiri. Menerima yang telah Allah kasih untuk ku. Lalu menciptakan harapan-harapan kecil yang ingin aku dapat. Aku bersama siapapun itu, aku yakin ini jalan yang telah Allah kasih untuk ku. Kewajibanku menjalani, dan selalu bersyukur. Belajar ibadah adalah keinginanku. Lebih bersyukur dan melakukan hal-hal baik yang bisa ku lakukan.

Ahirnya bahagia itu kembali lagi. Dengan hal-hal yang sederhana yang kita syukuri. Alhamdulillah... :-)



No comments:

Post a Comment